Sabtu, 06 Maret 2010

Pasar Batu Akik di Jalan Majapahit Tetap Eksis Puluhan Tahun

KOTA Malang memang memiliki segudang fenomena. Seiring perkembangan zaman, kota yang dikenal Malang Kota Bunga ini kini menjadi kota mall dan pertokoan buah banyak berdirinya mall dan pertokoan baru. Walhasil, pemerintah kota pun menciptakan slogan Malang sebagai kota wisata belanja.
Memasuki area pasar modern, bukan lantas Kotane Arema ini kehilangan sentuhan tradisional. Ya, aneka macam pasar tradisional masih cukup menjamur dan memiliki pasar yang tidak kalah dengan keberadaan mall dan pertokoan megah. Salah satunya adalah Pasar Batu Akik dan Permata (cincin) Jalan Majapahit, yang terletak di bilangan Jalan Majapahit.

Jika anda suka batu Akik dan permata, keberadaan pasar ‘mini’ ini bisa menjadi jujukan yang sangat pas. Kurang lebih 35 pedagang biasanya berjajar berposisi di perko (emper toko) sebuah ruko besar yang kosong tepat di ujung selatan Jalan Majapahit. Mereka menawarkan aneka macam batu yang konon memiliki unsur mistik tersebut, itupun dengan harga yang sangat bervariasi.

”Kami menjual aneka jenis batu Akik dan permata, plus ikatnya atau cincin. Batu-batu ini semuanya langkah hingga membuat harganya juga bervariasi dari ribuan hingga bisa jutaan. Semuanya tergantung jenis dan kondisi batu serta bahan logam cincinnya, serta yang paling penting adalah motif yang dimunculkan dari batu itu sendiri,” terang Sugito, salah satu pedagang ini.

Mungkin, banyak orang yang tak mengenal dan mengerti jenis bebatuan berharga ini. Luar biasa, bebatuan indah itu tak hanya berasal dari lokal seperti Bandung dan sekitar Kalimantan, melainkan juga dari luar negeri. Misalnya, jenis Jamrud (Kolombia), Blue Safir (Birma dan Australia), Silent (Srilanka), Giok (Cina) dan Merah Roby (Benua Afrika). Satu buah batu lengkap ring bisa mencapai ratusan dan jutaan. Untuk ringnya, terbuat dari bahan emas, perak, stainless, uang logam, monel dan tembaga.

Misalnya, jenis Jamrud yang punya warna khas Hijau ini, mereka menawarkan kisaran Rp 600.000 hingga Rp 700.000. Sedangkan, Akik bermotif Tapak Jalak, Lafal Al-Quran dan orang salat bisa mencapai jutaan, hingga senilai dengan harga rumah. Begitu juga, batu jenis Bulu Macan yang berwarna hitam, jika batunya digoyang muncul motif mirip helaian bulu coklat macan. Jenis yang unik ini, disebut pedagang saat ini dipakai Presiden Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

”Untuk batu Akik dan permata ini tergolong barang berharga. Belum lagi, jika ikatnya ini terbuat dari bahan emas, tentunya harganya sangat mahal. Kami sendiri saja, dapatkannya juga dengan harga mahal. Apalagi batu asal luar negeri seperti Jamrud dari Kolombia. Indahkan batunya,” tambah Suyatno, pedagang lainnya. (poy/mar)

Potensi Besar Tempat Wisata

KONON, pemunculan nama batu Akik tidak lain berasal dari plesetan dari kata apik alias bagus. Tak salah, keberadaan bebatuan berharga ini kemudian sangat memikat hati para penggemarnya. Belum lagi, jika Akik tersebut dianggap memiliki motif yang sangat unik dan keberadaannya sangat langka.
Karena itu, optimis tinggi pun diapungkan para pedagang Akik dan permata yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Batu Mulia (PPBM) Malang, Jalan Majapahit, yang permanen mangkal di Jalan Majapahit dalam mengembangkan usahanya. Mereka yakin keberadaannya berpotensi menarik wisatawan yang menyuguhkan barang antik dan unik.

Perkembangannya, konsumen yang singgah ke pasar ‘mini’ nya ini terbukti tak hanya dari Malang Raya, melainkan juga luar kota. Bahkan, budayawan Jati Kusumo saja sempat mampir. Pasalnya, selain keunikan batu, harga yang ditawarkan di pasar ini dibilang lebih murah dibanding di pasar Akik luar Malang, seperti di Pasar Akik Jakarta.

”Keberadaan kami sangat berpotensi besar menjadi salah satu tempat wisata khas kota Malang. Keberadaan kami bisa seperti pedagang-pedagang batu di Jakarta, Surabaya dan Bali. Konsumen kami pun berasal dari luar Malang hingga wisatawan mancanegara,” ujar H Anang Zakaria, Ketua PPBM kepada Malang Post.

Impian tinggi diapungkan para pedagang agar pemerintah kota Malang juga mendukung keberadaannya. Salah satunya, adanya sentralisasi dengan mendirikan lahan atau pasar khusus, Pasar Akik dan Permata Kota Malang. Untuk menggapai impian itu, mereka melalui PPBM Malang beberapa kali mengajukan proposal program sentralisasi sejak era Walikota Tom Uripan. Pemkot sempat menanggapinya dengan mendirikan bedak sentralisasi di Pasar Burung kota Malang.

Anggota PPSBM siap mengganti biaya pendirian bedak, dengan cara mengangsur. Namun, hal itu sekadar janji. Hingga kemarin, mereka masih mangkal di perko (emper toko) sebuah ruko kosong di ujung selatan Jalan Majapahit. Sebelumnya, mereka pindah-pindah diataranya mangkal di depan Toko Oen dan Hotel Rice. Tapi saja, mereka berjualan dengan alas seadanya. Andai rapi dan indahnya, jika mereka berjualan di sebuah ruang di rangkaian bedak.

”Pak Peni Suparto (Walikota Malang, Red) pernah Acc (setuju) akan memberi kami tempat di ujung Majapahit, tapi tidak ada respon dari bawahannya. Kami ingin menjadikan pasar batu ini sebagai salah satu tempat wisata, didalamnya juga akan kami lengkapi dengan keberadaan tukang penggosokan dan penyepuhan logam berharga,” tambah Zakaria sembari berharap kota Malang memiliki pasar batu seperti di Jatinegara, Seteran Bali dan Bunga Kayun Surabaya.

Kompak, Bentuk Paguyuban

RAMAH dan saling canda tawa selalu menghiasi suasana para pedagang Akik Mojopahit. Pemandangan ini tidak hanya terjadi disaat mereka melayani konsumen. Melainkan juga, dibuktikan sesama pedagang baik saat berada di komplek pasar hingga di kehidupan sehari-hari.

Saking akrabnya, mereka bak sebagai keluarga sendiri. Joke-joke lucu, sharing bisnis barang dagangan hingga pembicaraan serius membahas kelanjutan masa depan usaha begitu gayeng ditunjukkan mereka. Kondisi ini yang membuat mereka bertahan hingga puluhan tahun dengan bersama-sama.

”Suasananya di sini enak. Kami bisa guyon bareng sambil berbagi ilmu dan wawasan soal batu Akik bersama. Bisa jadi, kondisi guyub seperti ini yang membuat kami bertahan sampai sekarang. Soal rejeki, itu yang ngatur Gusti Allah, kadang ramai dan juga bisa nggak dapat koyo selama berjualan,” terang Heri, salah satu pedagang asli Janti Sukun Malang.

Padahal, bahkan tak jarang dari mereka berasal bukan dari asli Arema (Arek Malang), melainkan dari luar kota. Seperti asal Surabaya dan daerah sekitarnya di Jatim. Meski demikian, mereka bersatu dan niat menjalankan usahanya masing-masing dengan didasari kekompakkan. Hal itu pun membuat mereka kamudian mengikrarkan membentuk sebuah paguyuban.

Adalah, Persatuan Pedagang Batu Mulia (PPBM) Malang, Jalan Majapahit. Paguyuban ini berdiri sudah puluhan tahun, tepatnya 20 tahun lalu. Mereka sempat berada di pinggiran Toko Oen, sebelum kini ngemper di Jalan Majapahit, dengan berteduh di teras sebuah ruko kosong berukuran besar di ujung Jalan Majapahit. Anggota paguyuban berjumlah sekitar 35 pedagang.

”Kami bisa awet muda sebab sama-sama berdagang, kompak dan selalu ada guyonan. Jadi, suasananya nggak tegang dan senang. Ramah tidak hanya ke konsumen, tapi juga antar pedagang,” ujar Suyatno, pedagang Akik yang aslinya Surabaya, namun kini menetap di salah komplek perumahan di Kedungkandang. (poy/mar/malangpost)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar